www.batangtoru.org | Harangan Tapanuli
17511
home,page-template,page-template-full_width,page-template-full_width-php,page,page-id-17511,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,qode-theme-ver-10.0,wpb-js-composer js-comp-ver-4.12,vc_responsive

Hutan Batang Toru, disebut juga “Harangan Tapanuli” dalam Bahasa Batak, terbentang dari kawasan hutan tropis dataran rendah berbukit hingga ke kawasan hutan terjal yang berlumut di dataran yg lebih tinggi.

HUTAN BATANG TORU

Hutan Batang Toru terletak di tiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara. Yang tersisa sekarang dari kawasan hutan yang unik ini terbentang seluas 141,749 ha, terbagi atas 2 blok yang dipisahkan oleh lembah retakan Sumatera. Sebagian besar areal di dataran rendah telah dibuka untuk pengembangan pertanian dan perkebunan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar Hutan Batang Toru sangat bergantung pada hutan tropis yang lembab ini serta curah hujan berskala tinggi yang dihasilkannya sebagai sumber air utama dan perlindungan dari banjir maupun erosi. Kawasan hutan ini merupakan bagian dari Bukit Barisan di Sumatera yang semakin penting peranannya dalam menyimpan karbon dioksida dan dalam mitigasi efek perubahan iklim.

Hutan Batang Toru juga merupakan habitat terakhir bagi populasi paling selatan dari Orangutan yang sangat terancam punah di Sumatera, baru-baru ini ditemukan secara genetik memiliki kekhasan tersendiri. Tapir, beruang madu, kambing hutan Sumatera, kucing emas dan harimau Sumatera yang sangat terancam punah juga masih dijumpai di kawasan hutan ini.

Biodiversitas

Sebagian besar areal Hutan Batang Toru saat ini dialokasikan sebagai kawasan hutan produksi. Satu konsesi HPH yang tidak lagi aktif memiliki izin untuk beroperasi di wilayah hutan yang terjal. Perambahan ilegal masih dilakukan oleh pendatang dari Nias dan penebangan liar juga masih terjadi di beberapa wilayah. Perburuan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan perdagangan mengancam satwa-satwa yang statusnya terancam punah. Terutama, ekspansi dari operasi pertambangan emas terbuka mengancam masa depan Hutan Batang Toru.

Ancaman

YELPanEco mengupayakan perlindungan Hutan Batang Toru sejak 2006. Saat ini hanya sekitar 20% dari keseluruhan kawasan hutan primer ini yang dilindungi, sementara sisanya terbuka untuk penebangan dan kegiatan eksploitatif lainnya. Kami mencoba untuk memastikan bahwa sebagian besar hutan yang masih tersisa di wilayah ini mendapatkan status “dilindungi” dan dikelola secara benar untuk kepentingan masyarakat, iklim di wilayah tersebut, serta juga untuk memastikan bahwa orangutan dan satwa-satwa lainnya dapat bertahan hidup. Gubernur Sumatera Utara telah menyetujui agar sebagian besar wilayah hutan ini ditunjuk sebagai kawasan yang dilindungi, begitu pun dengan ketiga pemerintah kabupaten Tapanuli. Usulan ini masih menunggu persetujuan dari Menteri Kehutanan di Jakarta.

Manajemen

MANFAAT JANGKA PANJANG: JASA LINGKUNGAN

Secara global, permintaan akan jasa lingkungan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah populasi. Dengan hilangnya setengah hutan dunia, nilai dari hutan-hutan yang tersisa tentu akan meningkat. Pemerintah Indonesia memahami keadaan ini dan telah memulai berbagai program percontohan untuk perdagangan nilai karbon dari hutan hujan di pasar Internasional.

Hutan Batang Toru dapat menjadi sumber pendapatan berkelanjutan bagi masyarakat Batak dan pemerintah setempat – jika hutan tersebut dipelihara. Berdasarkan laporan United Nations Environmental Program (UNEP), nilai uang yang didapat dari air yang dihasilkan, peran sebagai pengatur iklim, polinasi dan jasa ekosistem lainnya yang disediakan oleh Hutan Batang Toru diestimasi hingga USD 3.375 per hektar selama periode 30 tahun. Ini setidaknya sama dengan keuntungan dari penanaman sawit (yang tidak layak di pegunungan tinggi ini) dan memberikan manfaat jangka panjang yang lebih baik, termasuk di dalamnya perlindungan habitat untuk, hingga ratusan atau bahkan ribuan, spesies langka dan terancam punah.